Program Sabbatical Leave Dosen, Cuti Panjang yang Dibayar

Melani

Program Sabbatical Leave Dosen

AWRECEH – Program Sabbatical leave dosen di beberapa perguruan tinggi di luar negeri diatur sebagai cuti panjang yang berbayar. Cuti ini diberikan pada dosen setelah tujuh tahun mengabdi di periode tertentu atau pada umumnya selama satu tahun.

Lalu, apa tujuan sabbatical leave ini dilakukan? Apakah hal ini menguntungkan bagi dosen? Di bawah ini akan dijelaskan mengenai sabbatical leave untuk dosen.

Cuti Panjang untuk Mengembangkan Diri dalam Program Sabbatical Leave Dosen

Apa tujuan diadakannya sabbatical leave untuk para dosen? Sabbatical leave atau disebut cuti panjang ini diadakan untuk para dosen agar dosen tersebut bisa melakukan sesuatu yang tak bisa dilakukan saat bekerja full time.

Sabbatical leave ini memungkinkan para dosen untuk terjun dan terlibat ke dalam sebuah penelitian atau pun kegiatan lain yang berguna untuk mendorong prestasi akademik atau bisa juga untuk tingkatkan reputasi dan untungkan universitas.

Program sabbatical leave dosen ini membuat para dosen dibebaskan dari reguler di kampus asalkan bisa fokus sepenuhnya pada kegiatan akademik, contohnya seperti visitasi kampus lain guna menjalin kerja sama.

Tak hanya itu saja, selama masa sabbatical leave ini, para dosen juga bisa melakukan kolaborasi yang akhirnya menghasilkan riset antara dosen dan juga instansi lain. Di masa ini, dosen juga bisa fokus kembangkan diri, seperti melakukan pengayaan dan mendalami minat risetnya dengan lebih serius.

Hal ini berguna untuk para dosen agar bisa merancang sebuah karya ilmiah yang nantinya memiliki kualitas yang lebih baik dari sebelumnya. Menjadi seorang dosen juga perlu istirahat sejenak dari hiruk pikuk pekerjaan full time. Dan sabbatical leave ini adalah cara efektif untuk merehatkan dan memfokuskan diri untuk berkembang.

Waktu Dirilis Program Sabbatical Leave Dosen

Program sabbatical leave yang bisa diikuti oleh para dosen ini ternyata dirilis oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi atau Kemenristekdikti sejak bulan April tahun 2019. Biaya pengadaan program ini ditanggung oleh Dirjen Sumber Daya Iptek-Dikti.

Adapun tujuan program ini dilangsungkan adalah untuk menghasilkan rekomendasi salah satu bidang analisis dan juga menghasilkan laporan dari kegiatan tambahan yang dipilih dalam program tersebut.

Biasanya, program merenung atau sabbatical leave ini berlangsung selama dua atau bahkan tiga bulan selama satu semester yang berguna untuk hasilkan inovasi baru. Program ini membuat para dosen bisa memperbarui ilmu serta memperbaiki pencapaian akademik.

Tak hanya itu saja, para dosen juga bisa kembangkan program dan penelitian unggulan, mengembangkan kemitraan atau networking dan melakukan sebuah tolak ukur atau brenchmarking.

Para dosen, khususnya dosen yang ada di Indonesia lebih sering mengajar hingga kesulitan melakukan inovasi dan merefleksikan materi yang mereka ajarkan karena waktu yang padat. Maka dari itu, diadakannya program sabbatical leave ini jelas menguntungkan.

Para dosen bisa mendapatkan waktu untuk merenung tentang apa saja yang akan dilakukan ke depannya serta mengevaluasi proses pembelajaran. Program ini juga layak untuk diikuti karena memberi keuntungan yang berlipat untuk para dosen.

Selama beberapa bulan mengikuti program, para dosen tidak akan dibebani dengan kegiatan mengajar. Akan tetapi, para dosen tetap akan mendapatkan gaji serta tunjangan kinerja seperti biasa.

Selama mengikuti program ini, dosen haruslah menghasilkan sesuatu, contohnya seperti analisis pengembangan pembelajaran yang sesuai dengan keahlian dosen, analisis pengembangan publikasi dan riset, karir dosen dan lain sebagainya.

Setelah mengikuti program ini, dosen juga harus menyerahkan sebuah laporan, contohnya seperti laporan perangkat pembelajaran inovatif, laporan yang dilengkapi dengan manuskrip artikel serta rencana penelitian bersama atau draft final buku teks yang sesuai keahlian.

Program Sabbatical Leave untuk Karyawan

Tak hanya untuk para akademisi seperti profesor dan dosen, program sabbatical leave ternyata juga diadakan untuk para karyawan. Sama halnya seperti pada dosen, karyawan yang mengikuti program ini tak perlu bekerja tapi tetap digaji.

Biasanya karyawan memanfaatkan program ini untuk hal-hal pribadi yang ada di luar pekerjaan, seperti belajar, bepergian atau jadi seorang sukarelawan. Biasanya cuti yang dibayar ini diberikan untuk karyawan tetap atau sudah lama.

Sementara cuti yang tidak dibayar biasanya diberikan pada karyawan yang short time, minimal selama dua tahun bekerja. Cuti jangka panjang ini biasanya dilakukan selama satu sampai dua bulan. Adapun contoh cuti dibayar adalah cuti melahirkan.

Manfaat Program Sabbatical Leave Dosen

Adanya cuti ini bisa membuat pikiran jadi lebih fresh, menghemat biaya dan tenaga, dan untuk karyawan bisa terpenuhi haknya. Begitupula sabbatical leave untuk dosen yang bisa membuat dosen beristirahat sejenak dari mengajar.

Untuk karyawan, cuti panjang biasanya dilakukan pada karyawan yang sudah mengabdi lama, yakni tujuh sampai delapan tahun. Dan selama cuti tetap diberikan gaji. Hal ini tertulis di UU No 13 Tahun 2003.

Program Sabbatical leave dosen ini termasuk ke dalamnya. Cuti panjang tetap dibayar full gaji dan tunjangan, serta terbebas dari tanggung jawab mengajar asal bisa merenung yang nantinya menghasilkan untuk ke depannya.

Also Read

Tags

Leave a Comment